Redup buram cahaya malam
Tertutup awan berselimut kelam
Dimalam kau menangis penuh luka
Mengalir darah
Perlahan menetes bersama air mata
Perih luka lebam menutup rona cantik parasmu
Guratan aspal hitam kau coba hapus
Tak terlihat
Namun bekasnya masih tampak
kau lapis dengan rajutan sandiwara sutra
cerah pagimu bagai mentari baru
wangi aroma bak secercah kesegaran embun
langkah ringan beralas tapak syurga
berjalan riang di
hari esok esok dan esok
kau sungguh elok
apik menyimpan guratan luka
terselubung dengan sutra
tangismu tak kau biarkan ia mengalir deras
lukamu tak kau acuhkan membuang darah percuma
perihmu tak kau izinkan menutup dunia
kokoh kau berdiri menghadang badai kemurkaan
lelahmu kau simpan
demi melihat tawa canda manusia di sekitarmu
betonmu padat
kayumu kuat
besimu tak berkarat
perisaimu menyayat
namun dikala kau mulai rapuh
kan
ada cintamu sayangmu kasihmu
yang siap menopang lembut penuh kekuatan
aku pastikan itu, Cahayaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar