Minggu, 14 Oktober 2012

tertawa pelan-pelan



Selasa, 9 Oktober 2012

Sore ini, gw pulang bareng sama salah satu temen random gw, sebut saja namanya Mbak Mar. *mbahaha
Selama perjalanan pulang itu, gw ga tau kenapa adaaaa aja hal yang bisa kita ketawain *gw lupa apa aja, soalnya banyak banget* mulai dari yang bikin gw ketawa kecil sampe ketawa ngakak. Sejak dari masjid di kampus gw, sampe ke tukang seblak basah, dan akhirnya kita berpisah di perempatan masuk kosannya Mbak Mar.

Sempet beberapa kali selama ketawa di perjalanan itu gw ngerasa terlalu senang, dan beberapa kali itu juga gw mikir ‘sekarang ketawa lebay, nanti nangis bombay’ dan kata-kata itu juga sempet gw lontarkan ke Mbak Mar karna dia protes “aduh, kita ketawa mulu yak”. Sebenernya ini kata-kata yang suka dibilang sama orang tua jaman dulu, “jangan ketawa terus-terusan, ntar malah jadi nangis” yang biasanya berupa pemberitahuan buat anak kecil yang sedang main sama temennya. Biasanya ketika anak ini main dan tertawa puas, ada aja satu kejadian yang pada akhirnya bikin salah satu anak sedih, kepentok lah, jatoh lah, tangannya luka lah, ya gitu.

Naaaah, di perjalanan pulang tadi, gw mengalami satu kejadian yang membuat gw ingat akan satu hal dan seseorang yang beberapa hari terakhir ini hilang. Alhasil, sampe larut malam begini gw jadi random. Sedih, bahkan sesekali gw nangis.
Dari sini gw dapat satu pelajaran, meskipun apa yang gw bilang tadi itu hanya mengulang dari perkataan orang tua kita dulu, tapi tetep aja mereka pasti punya alasan yang jelas mengatakan hal itu. Misalnya saja, ketika anak kecil sedang bermain dan tertawa berlebihan, mungkin ketika tertawa itu keseimbangannya berkurang yang menyebabkan ia terjatuh, kemudian ia pun menangis. Atau mungkin semua energy yang dimiliki anak itu telah habis selama ia tertawa bersama temannya, di malam hari ia kelelahan, badannya panas, kemudian ia menangis.

Begitu juga dengan gw tadi, mungkin semua kesenangan dan kebahagiaan gw udah dihabiskan di sore hari tadi, jadi malam ini ketika gw mengalami sedikit sentilan, gw kurang bisa meregulasi emosi dengan mengingat hal-hal yang menyenangkan lagi. Hingga akhirnya gw sedih dan menangis.

Terinspirasi dari sebuah kata dr Film Perahu Kertas 2 “jatuh cinta lah pelan-pelan, jangan sekaligus. Sakit nanti” ini akan gw analogikan dengan kejadian gw tadi “tertawalah pelan-pelan” maksud gw disini adalah ketika kita emang butuh tertawa, puaskanlah. Tidak baik ketika kita memaksakan diri untuk tertawa diluar kebutuhan tertawa kita di hari itu. Pelan-pelan saja, simpan sebahagiannya untuk di lain waktu, tidak perlu dikeluarkan semua, sehingga nanti ketika mood mulai turun bisa dipakai untuk kembali menaikkannya.

‘deal-deal’ an



Minggu, 7 Oktober 2012

Suatu hari di bulan agustus di  salah satu kamar yang ada di rumah, aku sedang menemani seorang wanita tua dengan tubuh ringkihnya yang duduk berselonjor di tempat tidur. Seperti yang beberapa kali aku lakukan sejak kedatanganku kemari, aku memastikan beliau yang biasa aku panggil dengan sebutan ‘nenek’ ini sudah makan. Sambil makan, nenek bercerita kalau tadi malam ada orang yang mengikutinya hingga ia ketakutan. Ini adalah salah satu cerita ngelantur nenek.
-Ya, sejak sebelum memasuki bulan Ramadhan, sering aku mendengar cerita dari mama mengenai omongan nenek yang kadang ngelantur. Semakin hari semakin sering. Pendengaran nenek yang tidak lagi baik, seringkali membuat nenek kurang tepat dalam memahami apa yang kami sampaikan. Kalau aku bilang, maklumi saja nenek sudah tua.-

Aku kasihan melihat nenek, wanita yang dulu sering menemaniku sebelum tidur –dengan bercerita tentang legenda-legenda yang ada di kampungku, bercerita tentang beratnya memperoleh pendidikan di zamannya sehingga harus berjalan kaki puluhan kilometer, bercerita mengenai masa remajanya, bercerita tentang masa-masa ia ditinggal selamanya oleh suami pertama dan anaknya hingga ia pun menikah untuk yang kedua kalinya namun tidak dikaruniai anak lagi, bahkan bagaimana orang tuaku berkenalan hingga mereka menikah dan memiliki anak pun aku dengar ceritanya dari nenek–, mengajakku ke danau untuk menaiki biduak (nama sampan di kampungku), memanen kangkung, atau berjalan kaki ke pasar, saat itu terlihat amat kurus dengan kakinya yang sedikit membengkak. Bahkan untuk berjalan dari kamar menuju dapur pun nenek sudah tidak sanggup. Makanya aku yang menyiapkan makanan untuk nenek ke kamarnya, menemani nenek bercerita di kamarnya, atau memapah nenek berjalan ke kamar mandi.

Beberapa hari setelah lebaran, nenek sempat mengalami kejadian yang amat aneh menurutku, tapi lagi-lagi kami sekeluarga mencoba memakluminya karena memang nenek sudah tua. Keesokan harinya badan nenek panas, mungkin terlalu lelah dengan kejadian yang sehari sebelumnya dialami oleh nenek. Aku mengantarkan makanan ke kamar nenek, namun kesibukanku mengurus rumah pada saat itu membuatku lupa untuk menemani nenek. Ternyata nenek menyusulku yang saat itu sedang mencuci piring di dapur.

N : rangkik-rangkik rasanyo badan nenek (semua badan nenek sakit, pegel)
T : mungkin dek tadi malam tu nek, alah sudah nenek makan? Ndak batambuah nenek do? (mungkin karna tadi malam nek, nenek udah selesai makannya? Ga nambah nek?)
N : iyo, garik bana nenek tadi malam tu. Alah lah tu, lah banyak nenek makan tadi (iya, tadi malam nenek udah ketakutan. Nenek ga nambah, udah banyak makannya tadi)
T : baa kok garik nenek? Dek a tu? (apa yang membuat nenek takut?)
N : malam tu raso-raso ka mati nenek. Ndak talok nenek lai do, sakik bana, tapi alun sudah nenek ka mati lai ( tadi malam nenek berasa mau mati, nenek ga sanggup lagi, sakit. Tapi nenek ngerasa belum siap)
T : baa kok macam tu nenek mangecek? (kenapa nenek ngomong kayak gitu?)
N : iyo, baa lai. Kan ndak baa dek tia ndak? (ya gimana lagi. Tia ga apa-apa kan?)
T : ndak lakeh bana tu nek? Nenek ndak ka malapehan tia dulu? (ga cepet banget nek? Nenek ga mau ngelepas tia nikah dulu?)
N : tia masih kuliah, sataun atau duo tahun lai baru ka dilapehan. Nenek ndak talok lai do (tia kan masih kuliah, seengganya satu atau dua tahun lagi baru nikah. Nenek udah sakit kaya gini, ga kuat lagi)
T : tu beko ndak ka mancaliak tia di palaminan nenek do? (jadi nenek nanti ga mau liat tia di pelaminan?)
N : lai nenek caliak, tapi dari jauah sajo (nanti nenek liat, tapi dari jauh aja)
T : hmm, jadi nek. (hmm, iya nek)
N : ndak baa tia kan? (ga kenapa-kenapa kan tia?)
T : ndak baa nek, asal jan sakik bana nenek. Ibo tia mancaliak nenek bantuak iko. (iya nek gapapa, yang penting nenek ga sakit. Tia kasian liat nenek kaya gini)

Ini percakapan aneh menurutku, karna seolah-olah nenek ingin memastikan bahwa aku tidak akan bermasalah jika di pernikahanku nanti tidak dihadiri olehnya. Setelah pembicaraan itu, nenek kembali ke kamarnya. Jujur, waktu itu masih belum paham apa maksud dari pertanyaan nenek “ndak baa tia kan?” mungkin kalau nanya soal “sekarang tia udah punya pacar atau belum?” atau “tia mau nenek jodohkan ga?” itu sudah sering nenek lakukan. Tapi percakapan ini, benar-benar belum bisa aku pahami maknanya pada saat itu.

Sekarang baru sadar, nenek ingin kepergiannya diikhlaskan.
Malam sebelum nenek pergi pun, mama yang sedang mengusap kaki nenek tiba-tiba merasa sakit pinggang. Lalu ketika melihat nenek, mama bergumam di dalam hatinya. “ya Alah, saya yang masih muda saja sudah merasakan sakit yang amat sangat di pinggang ini. mungkin orang tua saya merasakan kesakitan yang jauh lebih sakit dari pada saya. jika memang sudah waktunya, ambil saja lah ia, saya ikhlas. Tapi jika belum, sembuhkanlah penyakitnya.”
Setelah itu nenek pun pergi.

Sedih. Pasti sedih. Tapi aku ikhlas. Lega karena nenek tidak merasa sakit lagi. Semoga di sana, nenek mendapatkan kebahagiaan yang amat sangat, bertemu dengan suami dan anaknya, dan menjadi salah satu ahli syurga.
Maaf kalau tia belum bisa menjadi cucu yang baik, kalau mungkin tia sering kurang sabar saat mendengarkan cerita ngelantur nenek, kalau tia pernah mengabaikan panggilan nenek. Tia minta maaf yang sebesar-besarnya sama nenek. Bahagia di sana ya nek.

Penting ga penting


Sabtu, 06 Oktober 2012

Sepulang dari kuliah neuropsikologi tadi, gw sama temen-temen sekelompok kecerdasan gw bareng-bareng ngerjain tugas kelompok yang bakal dikumpul dan dipresentasikan rabu ini. Ya mungkin bisa dibayangin lah ya gimana jadinya kalau cewe-cewe ngerjain tugas kelompok, kadang lebih banyak ceritanya daripada ngerjain tugasnya.

Di sela-sela ceritanya  mereka, temen-temen gw yang bisa dibilang golongan akhwat ini sempet nyeletuk tentang cowo. Diantara mereka ada yang sepertinya sedang deket sama cowo yang mungkin merencanakan memiliki hubungan yang lebih lanjut. Salah satunya ada yang nanya gini “jadi lo sama dia itu statusnya gimana?” dan si orang yang di tanyain ini bilang “apa sih pentingnya sebuah status”

Tiba2 apa yang dibilang temen gw ini mengingatkan kejadian dimana gw dan temen gw sedang ada dalam suatu kondisi dimana posisinya gw sedang membagi keluha kesah gw ke dia. Soal cowo. Dan mungkin bisa kebayang lah dari apa yang gw sampaikan tadi kea pa yang gw ceritakan sama temen gw. Seputar status yang pada saat itu gw permasalahkan.

Mungkin bagi sebagian orang yang diantaranya temen-temen gw yang termasuk golongan orang baik banget ini, mereka ga membutuhkan status karna memang kondisinya berbeda dengan gw. Cewe pecicilan galau yang sedang membutuhkan kehadiran seseorang yang bisa menyayangi dan tetap menjaga komitmen berlandaskan sebuah status.

Keadaan dan pengalaman yang mungkin juga berbeda. Tapi sebenernya gw pun masih bertanya-tanya, apa sih pentingnya sebuat status dalam suatu hubungan? Mungkin yang kaya gw bilang tadi, status itu menjadi penting ketika lo menginginkan adanya komitmen dalam hubungan lo. Status itu menjadi penting disaat lo mulai ragu dengan orang itu, dan status lah yang mengingatkan lo untuk ‘menjaga’ hubungan itu. Status itu menjadi berharga ketika ‘dia’ melakukan hal yang tulus dan indah buat lo, dimana lo akan bahagia dan mengucapkan ‘wah, baik banget pacar gw’ atau ‘terima kasih suamiku’ bahkan ‘sayang banget sama sahabat gw ini’. itu menurut gw.

Jadi, ya gitu.. penting ga penting siiih.. gimana lo menyikapinya dan bagaimana konteksnya.

penuh

yak! ketemu lagi.. gw berasa udah lama banget ga ada ngepost.. gini niiih kalau kegalauan internet melanda.. hari ini gw mau ngepost beberapa hal yang sebelumnya gw catet di netbook gw, dan sekarang akan gw post melalui internet d kosan temen gw.. mbahahaha maap yah ju :P
oke, simak yaaah *loh?

Jumat, 05 Oktober 2012

Kamis Cerah



4 Oktober 2012
Pagi yang cerah dimana aku melanjutkan Kamis ini tanpa memulai hariku. Aku katakan seperti itu karena belum sempat mengakhiri hari kemarin dengan memejamkan mata sejenak seperti yang biasa aku lakukan. Ada hal yang membuatku tak bisa melakukannya, dan aku mendapati diriku masih membuka mata ketika pagi indah itu menyapaku.

Saat itu –seperti biasa– aku melakukan aktifitas yang kuyakini dapat memberiku semacam kekuatan dan semangat sepanjang hari, senyum tulus. Cermin ini menjadi saksi, sosok manis dengan senyum tulusnya itu menghilangkan gundahku dengan memberikan semangat besar dalam hariku. Pancaran sinar mata yang menjadi cerah itu pun menyimpan semua resah didalamnya, rapat.

Tiba di kampus, kuputuskan untuk membeli sebotol minuman guna meredakan lelah perjalananku. Disana kutemukan salah satu dosen yang biasa di panggil Bang Ikbal sedang berbicara dengan teman-temannya yang pada saat itu kupikir adalah mahasiswa S2. Selesai membeli minum, aku melewati Bang Ikbal dengan senyum cerah yang sejak pagi sudah kubangun guna tembokku. Bang Ikbal memanggil namaku yang membuatku menghentikan langkah, dan beliau mulai bercakap denganku.

Ik : kamu tersenyum, tria?
Saya : iya dong bang. *masih dengan senyum cerah yang menghiasi wajahku*
Ik : bahu kamu masih tidak mendukung senyumanmu. Apa alasan kamu tersenyum?
Saya : oiya bang? *langsung menegakkan bahu* biar orang ikut senyum begitu lihat aku senyum, bang.
Ik : oke, bagus. Apa yang mau kamu lakukan siang ini?
Saya : membuat teman saya bahagia, bang.
Ik : oke, silahkan lanjutkan.
Saya : hahaha, duluan ya bang.

Jawaban itu entah kenapa aku lontarkan begitu saja di hadapan dosenku yang selalu membaur dengan mahasiswa tersebut. Jawaban yang aku rasa konyol, namun membuat pikiranku entah kemana sepanjang perkuliahanku di hari itu. Membuat temanku bahagia, niatku adalah menyemangati di hari Sidang-nya meski tak dapat menyaksikan sepanjang Sidang, mendatanginya sesaat sebelum Sidang kurasa tepat. Namun kembali aku bertanya ‘akankah dia bahagia dengan kedatanganku?’.

Jawabanku di pagi itu seolah mengikat, menjadikan itu sebuah janji, membuat tanganku dingin-menggigil, dadaku sesak, nafas tak teratur. Hingga aku putuskan untuk menyemangati temanku itu, datang ke hadapannya sesaat sebelum Sidang itu dimulai. Ketika melihatku ada di sana, entah apa yang ada di pikirannya, dan entah ekspresi apa yang di perlihatkannya. Aku tak yakin dia senang, namun tak juga yakin dia tak mengharapkan. Entahlah.
 
Sorenya, ketika berada di kelas, Bang Ikbal menjelaskan berbagai macam hal pengantar sebelum memulai kegiatan kuliah yang di janjikan menggerakkan anggota tubuh dalam menyelami emosi yang muncul. Saat itu Bang Ikbal sempat menyinggung sebuah pertanyaan “perbuatan baik apa yang kau lakukan pada orang lain hari ini?”. Aku tersenyum, ingat janji kebaikan yang aku ucapkan pagi ini. Sudah aku lakukan bang, dan berharap aku bisa membuatnya senang hari ini – gumamku dalam hati.Semoga.....

Rabu, 03 Oktober 2012

warung penyet



Tadi, gw dan salah satu temen deket  gw kebetulan lagi bareng ama temen kampus lainnya yang pada saat itu berniat untuk makan siang. Makannya di warung ayam penyet deket pakilun tuuh. Waktu itu gw lupa kita lagi ngomongin apa, tapi entah kenapa temen kampus gw ini nanya  ke temen deket gw mengenai hal yang menurut gw sedikit ngena di gw.
H : kalau lo gimana? Kabarnya kemaren pas KKN ada yang deket bahkan sampe hampir jadian ya?
A : hah? Siapa?
gw : siapa? B*** L**? kaga itu mah, beda keyakinan..
H : *nyanyi Marcell - peri cintaku* yaah sayang banget, lo masih mengingat mantan lo yah?
A : mantan yang mana?
Gw : ebuset, sombong bener ini anak, banyak mantannya.
H : gw ga bisa kaya gitu yaa, ga punya mantan soalnya, tapi boong..
A : lah? Terus mantan lo yang di Telkom?
H : yang mana? Gw ga punya mantan di Telkom..
A : aduh, gw lupa, pokoknya waktu itu lo bilang kalau lo keterima kuliah di sini, dia dimanaa gitu. Jadinya ga bareng.
H : oooh, bukan. Itu bukan di Telkom. (gw lupa apa yg mereka obrolin di bagian ini) jadi, lo masih kepikiran mantan lo yah?
A : aduuh, mantan yang mana deh?
Gw : R!!
A : mbahaha, jadi mantan yang mana nih?
H : ya yang terakhir laah, biasanya kan orang lebih susah melupakan cinta terakhirnya kan? Kalau yang udah lama itu kan udah lupa dan sering kali pacar terakhir ini yang masih diinget sebagai cintanya itu.
Gw : eits, pacar terakhir belum tentu cinta yang diingatnya itu kaan..?
A : ooh, tapi gw ga terlalu mengingat mantan terakhir gw looh. Ya inget siih, tapi ya beda lah. Dan gw malah ngerasa lebihnya justru bukan ke pacar terakhir gw.
H : iyaa siih, berarti lo termasuk orang yang kaya di bilang Tria tadi yah, Bukan berarti pacar terakhir itu cinta yang diingatnya.
Apa yang gw bilang tadi itu sebenernya lebih merefleksikan temen gw yang satu itu, buat dia orang yang dia inget sebagai cintanya itu bukan berarti orang yang menjadi pacar terakhirnya. Karna emang sejauh ini, A selalu mengingat mantannya yang dulu, bukan mantan terakhirnya. Setiap orang mungkin akan berbeda pendapatnya mengenai ini, temen gw H bisa aja mengambil kesimpulan itu dari kebiasaan yang dilakukan oleh banyak temen cewe yang dia kenal. Tapi buat gw, ini hal yang luar biasa.
Ga semua pacar itu dipacari berdasarkan pada rasa cinta. Karna ya bayangin aja deh di jaman gw, SMP itu udah kenal sama yang namanya pacaran, cinta monyet, berduaan. Apalagi di jaman sekarang yang SD pun udah kenal sama kata-kata yang berbau seperti itu. Pertama kali gw pacaran itu kelas 2 SMP, dan pada saat itu sejujurnya gw pun masih kurang faham perasaan sayang itu sebenernya yang seperti apa. Mungkin buat sebagian orang pemahaman itu akan berkembang sesuai dengan berjalannya proses pendewasaannya.
Berbeda dengan A, mungkin A adalah salah satu orang yang mulai memahami rasa kagum dan sayang itu ketika dia berpacaran dengan R tadi, walaupun itu di zaman SMA, makanya A nganggap kalau R adalah cinta yang diingatnya. Dan gw, mungkin adalah salah satu orang yang memahami rasa kagum dan sayang ketika gw belum bisa memiliki orang itu, yang terjadi setelah gw memasuki dunia perkuliahan, dimana orang itu adalah sosok cinta yang gw inget. Dan orang itu belum menjadi pacar gw.