Minggu, 7 Oktober 2012
Suatu hari di bulan agustus di salah satu kamar yang ada di rumah, aku sedang
menemani seorang wanita tua dengan tubuh ringkihnya yang duduk berselonjor di
tempat tidur. Seperti yang beberapa kali aku lakukan sejak kedatanganku kemari,
aku memastikan beliau yang biasa aku panggil dengan sebutan ‘nenek’ ini sudah
makan. Sambil makan, nenek bercerita kalau tadi malam ada orang yang
mengikutinya hingga ia ketakutan. Ini adalah salah satu cerita ngelantur nenek.
-Ya, sejak sebelum memasuki bulan Ramadhan, sering aku mendengar
cerita dari mama mengenai omongan nenek yang kadang ngelantur. Semakin hari
semakin sering. Pendengaran nenek yang tidak lagi baik, seringkali membuat
nenek kurang tepat dalam memahami apa yang kami sampaikan. Kalau aku bilang,
maklumi saja nenek sudah tua.-
Aku kasihan melihat nenek, wanita yang dulu sering menemaniku
sebelum tidur –dengan bercerita tentang legenda-legenda yang ada di kampungku, bercerita
tentang beratnya memperoleh pendidikan di zamannya sehingga harus berjalan kaki
puluhan kilometer, bercerita mengenai masa remajanya, bercerita tentang
masa-masa ia ditinggal selamanya oleh suami pertama dan anaknya hingga ia pun
menikah untuk yang kedua kalinya namun tidak dikaruniai anak lagi, bahkan
bagaimana orang tuaku berkenalan hingga mereka menikah dan memiliki anak pun aku
dengar ceritanya dari nenek–, mengajakku ke danau untuk menaiki biduak (nama
sampan di kampungku), memanen kangkung, atau berjalan kaki ke pasar, saat itu
terlihat amat kurus dengan kakinya yang sedikit membengkak. Bahkan untuk
berjalan dari kamar menuju dapur pun nenek sudah tidak sanggup. Makanya aku
yang menyiapkan makanan untuk nenek ke kamarnya, menemani nenek bercerita di
kamarnya, atau memapah nenek berjalan ke kamar mandi.
Beberapa hari setelah lebaran, nenek sempat mengalami kejadian yang
amat aneh menurutku, tapi lagi-lagi kami sekeluarga mencoba memakluminya karena
memang nenek sudah tua. Keesokan harinya badan nenek panas, mungkin terlalu
lelah dengan kejadian yang sehari sebelumnya dialami oleh nenek. Aku
mengantarkan makanan ke kamar nenek, namun kesibukanku mengurus rumah pada saat
itu membuatku lupa untuk menemani nenek. Ternyata nenek menyusulku yang saat
itu sedang mencuci piring di dapur.
N : rangkik-rangkik rasanyo badan nenek (semua badan nenek sakit,
pegel)
T : mungkin dek tadi malam tu nek, alah sudah nenek makan? Ndak
batambuah nenek do? (mungkin karna tadi malam nek, nenek udah selesai makannya?
Ga nambah nek?)
N : iyo, garik bana nenek tadi malam tu. Alah lah tu, lah banyak
nenek makan tadi (iya, tadi malam nenek udah ketakutan. Nenek ga nambah, udah
banyak makannya tadi)
T : baa kok garik nenek? Dek a tu? (apa yang membuat nenek takut?)
N : malam tu raso-raso ka mati nenek. Ndak talok nenek lai do, sakik
bana, tapi alun sudah nenek ka mati lai ( tadi malam nenek berasa mau mati,
nenek ga sanggup lagi, sakit. Tapi nenek ngerasa belum siap)
T : baa kok macam tu nenek mangecek? (kenapa nenek ngomong kayak
gitu?)
N : iyo, baa lai. Kan ndak baa dek tia ndak? (ya gimana lagi. Tia ga
apa-apa kan?)
T : ndak lakeh bana tu nek? Nenek ndak ka malapehan tia dulu? (ga
cepet banget nek? Nenek ga mau ngelepas tia nikah dulu?)
N : tia masih kuliah, sataun atau duo tahun lai baru ka dilapehan.
Nenek ndak talok lai do (tia kan masih kuliah, seengganya satu atau dua tahun
lagi baru nikah. Nenek udah sakit kaya gini, ga kuat lagi)
T : tu beko ndak ka mancaliak tia di palaminan nenek do? (jadi nenek
nanti ga mau liat tia di pelaminan?)
N : lai nenek caliak, tapi dari jauah sajo (nanti nenek liat, tapi
dari jauh aja)
T : hmm, jadi nek. (hmm, iya nek)
N : ndak baa tia kan? (ga kenapa-kenapa kan tia?)
T : ndak baa nek, asal jan sakik bana nenek. Ibo tia mancaliak nenek
bantuak iko. (iya nek gapapa, yang penting nenek ga sakit. Tia kasian liat
nenek kaya gini)
Ini percakapan aneh menurutku, karna seolah-olah nenek ingin
memastikan bahwa aku tidak akan bermasalah jika di pernikahanku nanti tidak
dihadiri olehnya. Setelah pembicaraan itu, nenek kembali ke kamarnya. Jujur,
waktu itu masih belum paham apa maksud dari pertanyaan nenek “ndak baa tia
kan?” mungkin kalau nanya soal “sekarang tia udah punya pacar atau belum?” atau
“tia mau nenek jodohkan ga?” itu sudah sering nenek lakukan. Tapi percakapan
ini, benar-benar belum bisa aku pahami maknanya pada saat itu.
Sekarang baru sadar, nenek ingin kepergiannya diikhlaskan.
Malam sebelum nenek pergi pun, mama yang sedang mengusap kaki nenek
tiba-tiba merasa sakit pinggang. Lalu ketika melihat nenek, mama bergumam di
dalam hatinya. “ya Alah, saya yang masih muda saja sudah merasakan sakit yang
amat sangat di pinggang ini. mungkin orang tua saya merasakan kesakitan yang
jauh lebih sakit dari pada saya. jika memang sudah waktunya, ambil saja lah ia,
saya ikhlas. Tapi jika belum, sembuhkanlah penyakitnya.”
Setelah itu nenek pun pergi.
Sedih. Pasti sedih. Tapi aku ikhlas. Lega karena nenek tidak merasa
sakit lagi. Semoga di sana, nenek mendapatkan kebahagiaan yang amat sangat,
bertemu dengan suami dan anaknya, dan menjadi salah satu ahli syurga.
Maaf kalau tia belum bisa menjadi cucu yang baik, kalau mungkin tia
sering kurang sabar saat mendengarkan cerita ngelantur nenek, kalau tia pernah
mengabaikan panggilan nenek. Tia minta maaf yang sebesar-besarnya sama nenek. Bahagia
di sana ya nek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar