Minggu, 14 Oktober 2012

‘deal-deal’ an



Minggu, 7 Oktober 2012

Suatu hari di bulan agustus di  salah satu kamar yang ada di rumah, aku sedang menemani seorang wanita tua dengan tubuh ringkihnya yang duduk berselonjor di tempat tidur. Seperti yang beberapa kali aku lakukan sejak kedatanganku kemari, aku memastikan beliau yang biasa aku panggil dengan sebutan ‘nenek’ ini sudah makan. Sambil makan, nenek bercerita kalau tadi malam ada orang yang mengikutinya hingga ia ketakutan. Ini adalah salah satu cerita ngelantur nenek.
-Ya, sejak sebelum memasuki bulan Ramadhan, sering aku mendengar cerita dari mama mengenai omongan nenek yang kadang ngelantur. Semakin hari semakin sering. Pendengaran nenek yang tidak lagi baik, seringkali membuat nenek kurang tepat dalam memahami apa yang kami sampaikan. Kalau aku bilang, maklumi saja nenek sudah tua.-

Aku kasihan melihat nenek, wanita yang dulu sering menemaniku sebelum tidur –dengan bercerita tentang legenda-legenda yang ada di kampungku, bercerita tentang beratnya memperoleh pendidikan di zamannya sehingga harus berjalan kaki puluhan kilometer, bercerita mengenai masa remajanya, bercerita tentang masa-masa ia ditinggal selamanya oleh suami pertama dan anaknya hingga ia pun menikah untuk yang kedua kalinya namun tidak dikaruniai anak lagi, bahkan bagaimana orang tuaku berkenalan hingga mereka menikah dan memiliki anak pun aku dengar ceritanya dari nenek–, mengajakku ke danau untuk menaiki biduak (nama sampan di kampungku), memanen kangkung, atau berjalan kaki ke pasar, saat itu terlihat amat kurus dengan kakinya yang sedikit membengkak. Bahkan untuk berjalan dari kamar menuju dapur pun nenek sudah tidak sanggup. Makanya aku yang menyiapkan makanan untuk nenek ke kamarnya, menemani nenek bercerita di kamarnya, atau memapah nenek berjalan ke kamar mandi.

Beberapa hari setelah lebaran, nenek sempat mengalami kejadian yang amat aneh menurutku, tapi lagi-lagi kami sekeluarga mencoba memakluminya karena memang nenek sudah tua. Keesokan harinya badan nenek panas, mungkin terlalu lelah dengan kejadian yang sehari sebelumnya dialami oleh nenek. Aku mengantarkan makanan ke kamar nenek, namun kesibukanku mengurus rumah pada saat itu membuatku lupa untuk menemani nenek. Ternyata nenek menyusulku yang saat itu sedang mencuci piring di dapur.

N : rangkik-rangkik rasanyo badan nenek (semua badan nenek sakit, pegel)
T : mungkin dek tadi malam tu nek, alah sudah nenek makan? Ndak batambuah nenek do? (mungkin karna tadi malam nek, nenek udah selesai makannya? Ga nambah nek?)
N : iyo, garik bana nenek tadi malam tu. Alah lah tu, lah banyak nenek makan tadi (iya, tadi malam nenek udah ketakutan. Nenek ga nambah, udah banyak makannya tadi)
T : baa kok garik nenek? Dek a tu? (apa yang membuat nenek takut?)
N : malam tu raso-raso ka mati nenek. Ndak talok nenek lai do, sakik bana, tapi alun sudah nenek ka mati lai ( tadi malam nenek berasa mau mati, nenek ga sanggup lagi, sakit. Tapi nenek ngerasa belum siap)
T : baa kok macam tu nenek mangecek? (kenapa nenek ngomong kayak gitu?)
N : iyo, baa lai. Kan ndak baa dek tia ndak? (ya gimana lagi. Tia ga apa-apa kan?)
T : ndak lakeh bana tu nek? Nenek ndak ka malapehan tia dulu? (ga cepet banget nek? Nenek ga mau ngelepas tia nikah dulu?)
N : tia masih kuliah, sataun atau duo tahun lai baru ka dilapehan. Nenek ndak talok lai do (tia kan masih kuliah, seengganya satu atau dua tahun lagi baru nikah. Nenek udah sakit kaya gini, ga kuat lagi)
T : tu beko ndak ka mancaliak tia di palaminan nenek do? (jadi nenek nanti ga mau liat tia di pelaminan?)
N : lai nenek caliak, tapi dari jauah sajo (nanti nenek liat, tapi dari jauh aja)
T : hmm, jadi nek. (hmm, iya nek)
N : ndak baa tia kan? (ga kenapa-kenapa kan tia?)
T : ndak baa nek, asal jan sakik bana nenek. Ibo tia mancaliak nenek bantuak iko. (iya nek gapapa, yang penting nenek ga sakit. Tia kasian liat nenek kaya gini)

Ini percakapan aneh menurutku, karna seolah-olah nenek ingin memastikan bahwa aku tidak akan bermasalah jika di pernikahanku nanti tidak dihadiri olehnya. Setelah pembicaraan itu, nenek kembali ke kamarnya. Jujur, waktu itu masih belum paham apa maksud dari pertanyaan nenek “ndak baa tia kan?” mungkin kalau nanya soal “sekarang tia udah punya pacar atau belum?” atau “tia mau nenek jodohkan ga?” itu sudah sering nenek lakukan. Tapi percakapan ini, benar-benar belum bisa aku pahami maknanya pada saat itu.

Sekarang baru sadar, nenek ingin kepergiannya diikhlaskan.
Malam sebelum nenek pergi pun, mama yang sedang mengusap kaki nenek tiba-tiba merasa sakit pinggang. Lalu ketika melihat nenek, mama bergumam di dalam hatinya. “ya Alah, saya yang masih muda saja sudah merasakan sakit yang amat sangat di pinggang ini. mungkin orang tua saya merasakan kesakitan yang jauh lebih sakit dari pada saya. jika memang sudah waktunya, ambil saja lah ia, saya ikhlas. Tapi jika belum, sembuhkanlah penyakitnya.”
Setelah itu nenek pun pergi.

Sedih. Pasti sedih. Tapi aku ikhlas. Lega karena nenek tidak merasa sakit lagi. Semoga di sana, nenek mendapatkan kebahagiaan yang amat sangat, bertemu dengan suami dan anaknya, dan menjadi salah satu ahli syurga.
Maaf kalau tia belum bisa menjadi cucu yang baik, kalau mungkin tia sering kurang sabar saat mendengarkan cerita ngelantur nenek, kalau tia pernah mengabaikan panggilan nenek. Tia minta maaf yang sebesar-besarnya sama nenek. Bahagia di sana ya nek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar