4 Oktober 2012
Pagi yang cerah dimana aku
melanjutkan Kamis ini tanpa memulai hariku. Aku katakan seperti itu karena belum
sempat mengakhiri hari kemarin dengan memejamkan mata sejenak seperti yang
biasa aku lakukan. Ada
hal yang membuatku tak bisa melakukannya, dan aku mendapati diriku masih
membuka mata ketika pagi indah itu menyapaku.
Saat itu –seperti biasa– aku
melakukan aktifitas yang kuyakini dapat memberiku semacam kekuatan dan semangat
sepanjang hari, senyum tulus. Cermin ini menjadi saksi, sosok manis dengan
senyum tulusnya itu menghilangkan gundahku dengan memberikan semangat besar
dalam hariku. Pancaran sinar mata yang menjadi cerah itu pun menyimpan semua
resah didalamnya, rapat.
Tiba di kampus, kuputuskan untuk
membeli sebotol minuman guna meredakan lelah perjalananku. Disana kutemukan
salah satu dosen yang biasa di panggil Bang Ikbal sedang berbicara dengan
teman-temannya yang pada saat itu kupikir adalah mahasiswa S2. Selesai membeli
minum, aku melewati Bang Ikbal dengan senyum cerah yang sejak pagi sudah
kubangun guna tembokku. Bang Ikbal memanggil namaku yang membuatku menghentikan
langkah, dan beliau mulai bercakap denganku.
Ik : kamu tersenyum, tria?
Saya : iya dong bang. *masih dengan
senyum cerah yang menghiasi wajahku*
Ik : bahu kamu masih tidak mendukung
senyumanmu. Apa alasan kamu tersenyum?
Saya : oiya bang? *langsung
menegakkan bahu* biar orang ikut senyum begitu lihat aku senyum, bang.
Ik : oke, bagus. Apa yang mau kamu
lakukan siang ini?
Saya : membuat teman saya bahagia,
bang.
Ik : oke, silahkan lanjutkan.
Saya : hahaha, duluan ya bang.
Jawaban itu entah kenapa aku
lontarkan begitu saja di hadapan dosenku yang selalu membaur dengan mahasiswa
tersebut. Jawaban yang aku rasa konyol, namun membuat pikiranku entah kemana sepanjang
perkuliahanku di hari itu. Membuat temanku bahagia, niatku adalah menyemangati
di hari Sidang-nya meski tak dapat menyaksikan sepanjang Sidang, mendatanginya
sesaat sebelum Sidang kurasa tepat. Namun kembali aku bertanya ‘akankah dia
bahagia dengan kedatanganku?’.
Jawabanku di pagi itu seolah
mengikat, menjadikan itu sebuah janji, membuat tanganku dingin-menggigil, dadaku
sesak, nafas tak teratur. Hingga aku putuskan untuk menyemangati temanku itu,
datang ke hadapannya sesaat sebelum Sidang itu dimulai. Ketika melihatku ada di
sana, entah apa
yang ada di pikirannya, dan entah ekspresi apa yang di perlihatkannya. Aku tak
yakin dia senang, namun tak juga yakin dia tak mengharapkan. Entahlah.
Sorenya, ketika berada di kelas, Bang Ikbal menjelaskan berbagai macam hal pengantar sebelum memulai kegiatan kuliah yang di janjikan menggerakkan anggota tubuh dalam menyelami emosi yang muncul. Saat itu Bang Ikbal sempat menyinggung sebuah pertanyaan “perbuatan baik apa yang kau lakukan pada orang lain hari ini?”. Aku tersenyum, ingat janji kebaikan yang aku ucapkan pagi ini. Sudah aku lakukan bang, dan berharap aku bisa membuatnya senang hari ini – gumamku dalam hati.Semoga.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar