Jumat, 05 Oktober 2012

Kamis Cerah



4 Oktober 2012
Pagi yang cerah dimana aku melanjutkan Kamis ini tanpa memulai hariku. Aku katakan seperti itu karena belum sempat mengakhiri hari kemarin dengan memejamkan mata sejenak seperti yang biasa aku lakukan. Ada hal yang membuatku tak bisa melakukannya, dan aku mendapati diriku masih membuka mata ketika pagi indah itu menyapaku.

Saat itu –seperti biasa– aku melakukan aktifitas yang kuyakini dapat memberiku semacam kekuatan dan semangat sepanjang hari, senyum tulus. Cermin ini menjadi saksi, sosok manis dengan senyum tulusnya itu menghilangkan gundahku dengan memberikan semangat besar dalam hariku. Pancaran sinar mata yang menjadi cerah itu pun menyimpan semua resah didalamnya, rapat.

Tiba di kampus, kuputuskan untuk membeli sebotol minuman guna meredakan lelah perjalananku. Disana kutemukan salah satu dosen yang biasa di panggil Bang Ikbal sedang berbicara dengan teman-temannya yang pada saat itu kupikir adalah mahasiswa S2. Selesai membeli minum, aku melewati Bang Ikbal dengan senyum cerah yang sejak pagi sudah kubangun guna tembokku. Bang Ikbal memanggil namaku yang membuatku menghentikan langkah, dan beliau mulai bercakap denganku.

Ik : kamu tersenyum, tria?
Saya : iya dong bang. *masih dengan senyum cerah yang menghiasi wajahku*
Ik : bahu kamu masih tidak mendukung senyumanmu. Apa alasan kamu tersenyum?
Saya : oiya bang? *langsung menegakkan bahu* biar orang ikut senyum begitu lihat aku senyum, bang.
Ik : oke, bagus. Apa yang mau kamu lakukan siang ini?
Saya : membuat teman saya bahagia, bang.
Ik : oke, silahkan lanjutkan.
Saya : hahaha, duluan ya bang.

Jawaban itu entah kenapa aku lontarkan begitu saja di hadapan dosenku yang selalu membaur dengan mahasiswa tersebut. Jawaban yang aku rasa konyol, namun membuat pikiranku entah kemana sepanjang perkuliahanku di hari itu. Membuat temanku bahagia, niatku adalah menyemangati di hari Sidang-nya meski tak dapat menyaksikan sepanjang Sidang, mendatanginya sesaat sebelum Sidang kurasa tepat. Namun kembali aku bertanya ‘akankah dia bahagia dengan kedatanganku?’.

Jawabanku di pagi itu seolah mengikat, menjadikan itu sebuah janji, membuat tanganku dingin-menggigil, dadaku sesak, nafas tak teratur. Hingga aku putuskan untuk menyemangati temanku itu, datang ke hadapannya sesaat sebelum Sidang itu dimulai. Ketika melihatku ada di sana, entah apa yang ada di pikirannya, dan entah ekspresi apa yang di perlihatkannya. Aku tak yakin dia senang, namun tak juga yakin dia tak mengharapkan. Entahlah.
 
Sorenya, ketika berada di kelas, Bang Ikbal menjelaskan berbagai macam hal pengantar sebelum memulai kegiatan kuliah yang di janjikan menggerakkan anggota tubuh dalam menyelami emosi yang muncul. Saat itu Bang Ikbal sempat menyinggung sebuah pertanyaan “perbuatan baik apa yang kau lakukan pada orang lain hari ini?”. Aku tersenyum, ingat janji kebaikan yang aku ucapkan pagi ini. Sudah aku lakukan bang, dan berharap aku bisa membuatnya senang hari ini – gumamku dalam hati.Semoga.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar